Pengertian, dan Waktu diwajibkannya Shalat Lima Waktu

Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barokatuh.

Selamat menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan (2020) dan semoga Amal ibadah kita diterima Allah Subhanahu Wa Taala.

Aamiin ya Allah.

Alhamdulillah, adalah kata yang patut terucap, karena secara tidak sadar kita sedang dikehendaki melakukan perbuatan baik, yakni mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan sholat.

1. Pengertian Shalat.

Secara bahasa, shalat adalah doa. Karena itu, siapapun orangnya yang sedang berdoa dapat diartikan sebagai orang yang sedang shalat.

Tapi itu pengertian secara bahasa.

Secara syar’an, shalat adalah beberapa ucapan, dan perbuatan yang pada umumnya diawali dengan takbiratul ihram bersamaan niat, dan diakhiri dengan salam.

Lihat Minhajul Qowim Bab Shalat, halaman 31.

Sholat yang Fardu Ain jumlahnya ada lima waktu. Maka dari itu, dihukumi kafir bagi siapa saja yang meremehkan, atau menentang atas kewajiban sholat.

2. Waktu Diwajibkannya Shalat Lima Waktu.

Shalat lima waktu mulai diwajibkan pada malam isro setelah nabi Muhammad Shalallahu alaihi Wassalam menjadi Nabi selama 10 tahun lebih tiga bulan. Tepatnya terjadi pada malam ke 27 bulan Rajab.

Pada malam itu, sholat subuh tidak diwajibkan, karena belum mengetahui tata caranya.

Lihat Fatkhul Muin:

وفرضت ليلة الإسراء بعد النبوة بعشر سنين وثلاثة أشهر ليلة سبع وعشرين من رجب ولم تجب صبح يوم تلك الليلة لعدم العلم بكيفيتها

3. Orang Yang diwajibkan Shalat Lima waktu.

Fatkhul Muin

Yang wajib melakukan shalat lima waktu adalah setiap muslim yang mukallaf, yakni muslim lelaki dan perempuan yang baligh, berakal, dan suci.

Oleh sebab itu, shalat lima waktu tidak diwajibkan bagi orang kafir asli, anak kecil yang belum baligh, orang gila, epilepsi, dan orang mabuk yang tidak sengaja, karena tidak adanya taklif bagi mereka.

Begitu pula wanita haid, dan nifas, mereka tidak wajib melakukan sholat lima waktu, karena sholatnya wanita haid dan nifas tidak bisa dihukumi sah, dan mereka berdua (wanita haid dan nifas) tidak wajib mengqodo sholatnya.

Bahkan, sholat tetap dihukumi wajib bagi orang murtad, dan orang yang sengaja mabuk.

4. Hukum orang yang Meninggalkan Shalat.

Kitab Fathul Mu’in, menjelaskan sebagai berikut:

Fatkhul Muin

Seorang muslim yang mukallaf, dan keadaannya suci, jika sengaja meninggalkan shalat karena malas, tapi mereka tetap meyakini bahwa shalat lima waktu, adalah suatu kewajiban, kemudian ketika mereka sudah disuruh taubat namun tidak bertaubat juga, maka mereka dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya sebagai hukumannya.

Keterangan tersebut memberi tahukan kepada kita, bahwa shalat maktubah atau lima waktu, adalah sangat wajib yang tidak boleh kita tinggalkan.

Kita sebagai sesama muslim disunnahkan menyuruh mereka untuk bertaubat jika sampai sengaja meninggalkan shalat. Karena itu, kita tidak sampai didenda jika membunuh mereka yang tidak mau bertaubat, namun kita mendapatkan dosa.

Bahkan, mereka yang meremehkan atau menentang atas kewajiban sholat jika dibunuh, maka matinya dalam keadaan kafir. Oleh sebab itu, mereka tidak boleh disholatkan, dan tidak boleh dimandikan.

5. Kewajiban Mengqodho Sholat.

Fatkhul Muin

Setiap muslim yang meninggalkan sholat tanpa adanya udhur, maka wajib Mengqodho secepatnya.

Syaikh Ahmad Bin Hajar menjelaskan sebagai berikut:

Penjelasan yang jelas, adalah wajib baginya untuk memanfaatkan semua waktunya untuk mengqodho sholat yang ia tinggalkan tanpa adanya udzur syar’i, kecuali waktu untuk memenuhi kebutuhan primernya. Dan haram baginya melakukan ibadah Sunnah.

Tapi, apabila meninggalkan shalat karena adanya udhur, seperti ketiduran yang tidak sengaja meninggalkan shalat, dan lupa, maka hukumnya sunnah mempercepat Qodho.

Ingat yeah…

Berarti, kita tetap wajib mengqodho sholat meskipun tidak sengaja meninggalkannya. Hanya saja, kita disunnahkan mempercepat untuk melakukan Qodho.

6. Kewajiban Menyuruh Anak Kecil Sholat.

A. Ketentuan saat Memerintahkan Anak kecil yang usianya 7 tahun.

Anak kecil yang tamyiz, yakni sudah makan, minum, dan istinja dengan sendirinya, serta usianya sudah sempurna tujuh tahun, bagi orang tuanya, embahnya, dan seseorang yang memiliki budak anak kecil, maka wajib memerintahkannya untuk melaksanakan ibadah sholat, meskipun sholat Qodho, dan semua syarat-syaratnya sholat.

Saat memerintahkan anak kecil untuk sholat, akan lebih baik jika menyertakan juga kalimat yang dapat menakut-nakuti mereka.

Contoh

Jika kamu tidak mau sholat, maka bapak tidak akan memberikan kamu uang jajan.

Dan contoh lainnya yang sekiranya dapat membuat anak kecil mau diperintahkan untuk sholat.

B. Ketentuan saat Memerintahkan Anak kecil yang sudah berusia 10 tahun.

Anak kecil yang usianya sudah 10 tahun perlu dipukul jika mereka sampai meninggalkan shalat, atau meninggalkan syarat-syaratnya sholat.

Tapi dengan catatan..

Pukulan yang tidak sampai membahayakan terhadap anak kecil.

Supaya lebih jelas, silahkan buka kitab Fathul Mu’in Bab Sholat.

Terimakasih, dan semoga bermanfaat di dunia dan akhirat.

Aamiin ya Allah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *