Bacaan Niat Sholat Sunnah Idul Fitri yang Benar dan Sedikit Pembahasannya

Assalamualaikum Warahmatullahi wa barokatuh.

اللهم صل على سيدنا محمد

Saya mewakili pribadi mengucapkan mohon maaf lahir dan batin kepada semua pembaca, dan pengunjung setia Website sederhana ini.

Semoga semua Amal ibadah kita diterima, dan penuh keberkahan serta kemanfaatan dunia dan akhirat.

Aamiin ya Allah.

Tanpa panjang kata, berikut ini bacaan sholat sunah idul Fitri yang benar, dan artinya.

Niat Bagi Imam.

اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ اِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالٰى

“Saya niat sholat sunnah idul fitri dua roka’at imaman karena Allah ta’ala”

Niat Bagi Ma’mum atau Jama’ah.

اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالٰى

“Saya niat sholat sunnah idul fitri dua roka’at ma’muman karena Allah ta’ala”

Hukum Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat idul Fitri.

Berikut penjelasan hukum shalat sunah sebelum dan sesudah shalat id prespektif empat madhab:

Malikiyah:

Makruh shalat sunah sebelum dan sesudah shalat id jika shalat id dilaksanakan di lapangan.

Jika dilaksanakan di masjid (berrarti tidak sesuai sunah nabi), maka tidak makruh shalat sunah baik sebelum atau sesudah shalat id.

Hanabilah:

Makruh shalat sunah sebelum atau sesudah shalat id, entah itu shalat id dilaksanakan di masjid atau dilapangan.

Syafiiyah:

Makruh shalat sunah bagi imam, baik sesudah atau sebelum shalat id, entah di masjid atau di lapangan.

Tapi bagi makmum tidak makruh secara mutlak, baik sebelum atau sesudah shalat id. Hal demikian jika makmum tidak mendengar khutbah karena tuli atau jauh, jika mendengar khutbah maka makruh shalat (sebelum atau sesudah shalat id).

Hanafiyah:

Makruh shalat sebelum shalat id jika dilakukan di tempat shalat atau bukan.

Sementara shalat sesudah shalat id makruh jika dilakukan di tempat shalat, jika dilakukan di rumah tidak makruh.

Referensi:

Kitab Al-Fiqhu Ala Madzahib al-Arba’ah (1/320) :

مكروهات صلاة العيد
يكره التنفل للإمام والمأموم قبل صلاة العيد وبعدها على تفصيل (1
______
(1) المالكية قالوا: يكره التنفل قبلها وبعدها إن أديت بالصحراء كما هو السنة، وأما إذا أديت بالمسجد على خلاف السنة فلا يكره التنفل لا قبلها ولا بعدها.
الحنابلة قالوا: يكره التنفل قبلها بالموضع الذي تؤدي فيه، سواء المسجد أو الصحراء
الشافعية قالوا: يكره للإمام أن يتنفل قبلها بعدها، سواء كان في الصحراء أو غيرها، وأما المأموم فلا يكره له التنفل قبلها مطلقاً ولا بعدها إن كان ممن لم يسمع الخطبة لصمم أو بعد وإلا كره.
الحنفية قالوا: يكره التنفل قبل صلاة العيد في المصلى وغيرها. ويكره التنفل بعدها في المصلى فقط، وأما في البيت فلا يكره

Dari admin mengucapkan minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

والله اعلم بالصواب

#MT_FPKK_DUKEM
#NGAJI_SAMPAI_MATI

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *