Macam macam Najis dan Cara Menyucikannya

Semoga Allah Subhanahu Wa Taala memberi kemanfaatan dan keberkahan atas pengetahuan yang kita pelajari saat ini.

Aamiin ya Allah

Yang kita bahas sekarang berkaitan dengan bab najis. Mencakup pengertian, contoh, dan macam-macam najis.

Daftar Pembahasan.

Pengertian, dan contoh-contoh najis.

Pembahasan di sini mencakup pengertian najis secara bahasa, dan istilah.

Kami juga mencantumkan beberapa contoh, dan penjelasannya.

Mulai Belajar

Macam-macam najis.

Selayaknya Anda tahu, bahwa najis terbagi menjadi tiga macam, yakni najis mugholadhoh, mukhaffafah, dan mutawasitoh.

Dalam pembahasan ini, kita mencari tahu seperti apa contoh-contohnya, dan bagaimana cara membersihkannya.

Mulai Belajar

Cara Membersihkan Najis yang benar.

Rasanya kurang maknyus, kalau kita sebatas belajar mengenai pengertian, pembagian, dan contohnya najis, tanpa mempelajari tata cara yang benar untuk mensucikan najis.

Karenanya, Anda tidak boleh melewatkan materi ini.

Mulai Belajar

Referensi.

Supaya pembelajaran kita dapat dipertanggungjawabkan, dan punya sanad yang jelas, maka semua pengetahuan yang kami tuliskan berdasarkan sumber yang dapat dipercaya.

Lihat referensi

Pengertian Najis.

Secara bahasa, najis adalah setiap perkara yang kotor, atau menjijikkan.

Sedangkan menurut istilah, najis adalah setiap perkara kotor yang dapat mencegah sahnya shalat, sekiranya tidak ada perkara yang meringankan. Dan, perkara cair yang sifatnya memabukkan.

Referensi, Kitab Minhajul Qowim

وهي لغة كل مستقذر وشرعا بالحد مستقذر يمنع صحة الصلاة حيث لامرخص وبالعد كل مسكر مائع أصالة

Contoh-contoh najis.

  1. Khomer. Khomer, masuk dalam kategori minuman yang sifatnya memabukkan, dan minuman tersebut hasil perasan dari buah anggur.
  2. Anjing, Babi, dan anak-anaknya.
  3. Bangkai. Terkecuali bangkai ikan, belalang, dan manusia.
  4. Darah.
  5. Nanah.
  6. Muntahan.
  7. Kotoran Hewan.
  8. Air Kencing.
  9. Madzi.
  10. Wadzi.
  11. Air Liur.
  12. Air maninya Anjing, Babi, dan anak-anaknya.
  13. Air susunya hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan.

Penjelasan lebih lengkapnya sudah kami lampirkan di bawah.

macam-macam najis.

Kitab Safinatunnajah menjelaskan pembagian najis, seperti berikut

النجاسات ثلاثة مغلطة ومخففة ومتوسطة

Najis terbagi menjadi tiga bagian, yakni

  1. Najis Mugholadhoh.
  2. mukhaffafah.
  3. mutawasitoh.

Pembahasan.

Najis Mughallazah.

Contoh najis mughallazah adalah najisnya Anjing, Babi, dan juga anak-anaknya.

Adapun cara mensucikan atau membersihkan najis mugholadhoh harus dibasuh sebanyak tujuh basuhan, yang salah satu basuhannya dicampur dengan debu yang suci.

Hal ini berdasarkan keterangan dalam kitab Minhajul Qowim.

إذا تنجس شىء بملاقاة كلب أو فرعه مع الرطوبة غسل سبعا مع مزج إحداهن بالتراب الطهور والأفضل فى الأولى ثم فى غير الأخيرة والخنزير كالكلب

Penjelasan.

Ketika suatu perkara menjadi najis disebabkan menyentuh anjing, babi atau anak-anaknya mereka dan bersentuhannya dalam keadaan basah, maka perkara itu perlu dibasuh sebanyak tujuh kali, dan salah satu basuhannya dicampur dengan debu atau tanah yang suci.

Penjelasan singkat di atas kiranya perlu diperhatikan dengan seksama, sebab didalamnya terdapat kalimat

dalam keadaan basah.

Lantaran itu, sangat disarankan bagi Anda agar mencermati ketiga contoh berikut, supaya tidak sampai salah paham.

1. Semisal, Anda habis mandi dan kaki yang masih basah tertempel Anjing yang sedang melintas. Dengan demikian, kakinya Anda harus dibersihkan dengan tujuh basuhan, karena keadaannya masih basah, meskipun Anjing yang menyentuh dalam keadaan kering.

2. Kakinya Anda kering, kemudian tersentuh Anjing yang habis mandi. Secara otomatis, kaki tersebut tetap dibasuh sebanyak tujuh basuhan, karena keadaan anjing masih basah, meskipun kakinya Anda dalam keadaan kering.

2. Kakinya Anda kering dan tersentuh Anjing yang kering.

Jika seperti itu, kakinya Anda tidak perlu dibasuh sebanyak tujuh basuhan, karena diantara kaki, dan anjing keadaannya sama-sama kering.

Artinya, kakinya Anda tetap dihukumi suci.

Bagaimana cara mensucikan najis anjing di lantai ?

Caranya sama, yakni dibasuh sebanyak tujuh kali, dan salah satu basuhannya dicampur dengan debu suci.

Tambahan.

Di dalam kitab Syarah Kasifatussaja terdapat kalimat بعد إزالة عينها

Maksudnya, sebelum membasuh dengan tujuh basuhan, terlebih dahulu kita harus menghilangkan bentuknya.

cara yang paling utama saat membasuh anggota yang terkena najisnya Anjing, dan Babi.

Sedangkan urutan yang paling utama, adalah air yang sudah dicampur debu suci diterapkan saat pertama kali Anda membasuh anggota yang terkena najis.


Najis Mukhaffafah.

Najis mukhaffafah adalah najis ringan yang cara menyucikannya cukup memercikkan air pada perkara yang terkena najis tersebut.

Tapi perlu diingat.

Air yang dipercikan harus meratai tempat yang terkena najis, meskipun tidak sampai mengalir.

Coba kita cermati penjelasan yang ada di kitab Minhajul Qowim, halaman 23.

Kita perhatikan lafadz yang diberi tanda panah.

أى يرش بالماء حتى يعم موضعه ويغلب عليه وان لم يسل للإتباع

Maksudnya

ketika kita memercikkan air pada tempat yang terkena najis mukhaffafah, maka airnya harus mengenai tempat tersebut secara merata, meskipun air yang kita gunakan tidak sampai mengalir.

Contoh najis mukhaffafah, adalah air kencingnya bayi lelaki yang belum makan sesuatu, terkecuali air susu. Dan, usia bayi tersebut belum mencapai dua tahun.

Beda halnya dengan air kencingnya bayi perempuan.

Meskipun bayi perempuan tersebut belum makan sesuatu terkecuali air susu, dan usianya juga belum mencapai dua tahun, tapi air kencingnya tetap dihukumi najis mutawasitoh.

Yang artinya, kita harus menghilangkan air kencingnya bayi perempuan, baru kemudian membasuh, atau mengalirkan air suci, dan mensucikan.


Mutawasitoh.

Najis mutawasitoh adalah najis yang cara membersihkannya dibasuh menggunakan air suci sampai mengalir.

Contoh najis mutawasitoh adalah kotoran ayam, air kencing, bangkai, dan sebagainya.

Najis Mutawasitoh terbagi menjadi dua bagian, yakni najis Ainiyah, dan Hukmiyah.

  1. Najis ainiyah, adalah najis yang warna, bau, dan rasanya masih ada.
  2. Najis hukmiyah, adalah najis yang tidak ada lagi warna, bau, dan juga rasanya.

Referensi, kitab Kasifatussaja, halaman 45.


Tata cara membersihkan najis yang benar.

Langkah yang kita lakukan untuk membersihkan atau menyucikan najis tergantung dari keadaannya, apakah najis ainiyah, atau hukmiyah.

A. Menghilangkan Najis Ainiyah.

Jika kotoran yang akan dibersihkan berstatus najis Ainiyah (bentuk, warna, bau, dan rasanya masih ada), maka urutan untuk membersihkannya sebagai berikut

  1. Menghilangkan bentuk, rasa, warna, dan baunya.
  2. Jika sudah hilang semuanya, baru kemudian disiram dengan air suci.

Contoh sederhananya, adalah kotoran ayam.

Anda jangan langsung menyiramnya, sebab hal itu justru membuat najis semakin meluas. Karenanya, terlebih dahulu Anda harus menghilangkan bentuk, rasa, warna, dan baunya kotoran ayam.

Tapi seumpama warna, atau bau najis sulit dihilangkan, maka hal itu tidak berbahaya.

Contoh Warna Najis Yang sulit dihilangkan.

Seumpama, Anda menyembelih ayam, dan darahnya mengenai baju atau celana yang Anda pakai.

Tapi, Anda tidak langsung membersihkannya, sampai-sampai darah tersebut menjadi kering, dan akibatnya Anda kesulitan menghilangkannya.

Jika seperti itu,

pakaian Anda boleh digunakan untuk sholat, dan sebagainya. Dengan catatan, Anda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan warna darahnya.

Contoh Bau Najis Yang sulit dihilangkan.

Semisal, Anda bekerja di sebuah perusahaan yang tugasnya memelihara sapi.

Setiap harinya, Anda membersihkan pekarangan, memandikan sapi, bahkan kotorannya pun harus Anda bersihkan.

Sebab demikian, bukan hal mustahil jika salah satu anggota atau pakaian Anda berbau kotoran sapi yang sulit dihilangkan, meskipun sudah dibersihkan dengan berbagai cara.

Apabila seperti itu, maka pakaian, atau anggota tubuh yang berbau kotoran sapi tidaklah berbahaya. Artinya, boleh digunakan untuk sholat, atau ibadah lainnya yang mengharuskan Anda berbadan dan berpakaian suci.

Perhatian

Tapi jika warna, dan bau masih ada keduanya, maka hal itu berbahaya. Artinya, masih dihukumi najis, dan tentunya tidak boleh digunakan untuk sholat.

B. Menghilangkan Najis Hukmiyah.

Lebih mudahnya, yang dimaksud najis Hukmiyah, adalah najis yang tidak adanya bentuk, rasa, warna, dan baunya.

Untuk menyucikan najis yang semacam ini cukup mengalirkan air.

Salah satu contoh najis Hukmiyah, adalah air kencing yang mengering, dan rasa, warna, serta baunya sudah tidak ada.

Syarah Minhajul Qowim

Pertanyaan Seputar Najis.

Berikut ini kumpulan tanya jawab yang kami tuliskan.

Seiring berjalannya waktu, nantinya akan kami tambahkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan najis.

Insya Allah.

1. Bagaimana cara merendam pakaian dalam ember yang baik dan benar ?

Solusi terbaik agar proses mencuci pakaian lebih cepat bersih, adalah dengan cara merendamnya dengan air suci, dan dicampur deterjen.

Tapi kalau pakaian yang akan direndam terdapat najis hukmiyah, maka cara merendamnya sebagai berikut

  1. Pertama, pakaian yang terdapat najis hukmiyah diletakkan terlebih dahulu dalam ember.
  2. Kedua, mengisi air untuk merendamnya.

Semisal, Anda akan merendam celana yang pernah terkena percikan air kencing. Bentuk, bau, rasa, dan baunya juga sudah hilang.

Jadi, langkah pertama adalah meletakkan celana terlebih dahulu ke dalam ember, baru kemudian mengisi air.

Cara di atas dilakukan agar statusnya menjadi

Air sedikit yang mendatangi najis. Bukan najis yang mendatangi air.

Dengan demikian, celana tersebut bisa suci, dan air bekas cucian tetap suci meskipun tidak bisa mensucikan.

Akan tetapi, jika najisnya masih najis ainiyah, maka bentuk, rasa, bau, maupun warnanya harus dihilangkan terlebih dahulu. Jika sudah, baru kemudian boleh direndam.

Perhatian

Air bekas cucian dihukumi suci meskipun tidak bisa mensucikan, apabila tidak berubah disebabkan rasa, warna, atau baunya najis.

Lihat referensi 1.

2. Apa saja najis yang bisa suci ?

Pada dasarnya, yang namanya najis tidak akan bisa menjadi suci.

Seperti penjelasan di atas, najis adalah perkara kotor yang mencegah sahnya shalat, sekiranya tidak ada perkara yang meringankan.

Sedangkan yang dinamakan mutanajis adalah perkara yang terkena najis.

Contoh.

  1. Kotoran Ayam, adalah najis.
  2. Kaki manusia yang terkena kotoran ayam, disebut dengan mutanajis.

Kita ambil contoh yang sama, yakni kotoran ayam. Sampai kapanpun, yang dinamakan kotoran ayam, atau tembelek tidak akan pernah menjadi suci.

Tapi, ada tiga pengecualian, yakni

  1. Khomer yang menjadi cuka dengan sendirinya. Perubahan tersebut bisa disebabkan karena terlalu lama disimpan sehingga dengan sendirinya menjadi cuka. Alias, perubahannya tanpa campur tangan manusia.
  2. Kulit Bangkai yang disamak. Seumpama, Anda punya kambing mati karena kelaparan. Pastinya, status kambing tersebut menjadi bangkai, karena matinya tidak disembelih sesuai syariat. Tapi, kulitnya bisa suci jika Anda menyamaknya. Yang dimaksud menyamak adalah upaya Anda untuk menghilangkan perkara basah yang dapat merusak kulit, seperti daging, dan darah yang masih melekat. Sebab, jika daging, atau darah tidak Anda bersihkan, maka kulit bangkai kambingnya bisa membusuk. Lihat kitab kasifatussaja, halaman 159.
  3. Perkara yang menjadi hewan. Contoh, ada ayam mati. Karena bangkainya terlalu lama, terkadang muncul hewan yang bernama ulat. Maka, ulat yang keluar dari bangkai ayam tersebut hukumnya suci.

Kesimpulannya, ketiga perkara di atas hukumnya suci.

Lihat referensi 2.

Catatan.

Kulitnya anjing, dan babi tidak bisa di samak. Meskipun Anda menyamaknya, maka hukumnya tetap najis.

3. Apakah air mani manusia dihukumi najis ?

Air maninya manusia dan hewan selain anjing, dan babi hukumnya suci.

Lihat referensi 3.

4. Seperti apa perbedaannya Madzi dan Wadzi ?

Agar dapat membedakan antara air madzi dan wadzi, tentu kita harus tahu terlebih dahulu pengertian dari keduanya.

  1. Madzi, adalah air berwarna kuning, lembut, yang keluarnya disebabkan meluapnya sahwat.
  2. Wadzi, adalah air berwarna putih, kental, padat yang keluarnya setelah kencing. Biasanya, wadzi keluar disebabkan Anda terlalu lelah.

Jika Anda memahami betul pengertian di atas, tentunya lebih mudah membedakan antara air madzi dan wadzi.

Kiranya perlu diingatkan, bahwa air madzi dan wadzi hukumnya najis.

Lihat referensi 4.

5. Keputihan Wanita apakah dihukumi najis ?

Keputihan wanita dihukumi suci.

Anda perlu tahu, keputihan wanita berbeda dengan madzi, dan wadzi.

Ini disampaikan, karena saya sering menemu bacaan yang mengatakan bahwa keputihan wanita hukumnya najis, tapi mereka yang mengatakan seperti itu memakai keterangan tentang madzi dan wadzi.

Padahal, keputihan wanita bukan termasuk madzi, ataupun wadzi.

Jika kita tinjau dari kitab fiqih, nama lain dari keputihan wanita, adalah رطوبة الفرج (Rutubatul Farji).

Rutubatul Farji, adalah air berwarna putih yang membuat Anda ragu, apakah air tersebut termasuk keringat, dan madzi.

Yang jelas, Rutubatul Farji bukan madzi, atau wadzi.

Akan tetapi, jika keluarnya Rutubatul Farji atau keputihan wanita dari dalam Farji (kemaluan) maka hukumnya najis.

Lihat referensi 5.

6. Seperti apa ketentuan air liur yang dihukumi najis ?

Ketentuan air liur yang dihukumi najis adalah ketika keluarnya sudah diyakini dari perut.

Karena itu, akan lebih baik jika kita memakai bantal ketika hendak tidur.

Lihat referensi 6.

7. Bagaimana hukum kaki kambing yang dipotong dalam keadaan hidup ?

Setiap anggota hewan yang terpisah dihukumi seperti bangkainya.

Jika bangkainya dihukumi suci, maka hukum anggota yang terpisah tetap suci, seperti halnya ari-ari manusia.

Begitu pula sebaliknya.

Jika bangkainya dihukumi najis, maka anggota yang terpisah dihukumi najis, seperti kaki kambing yang dipotong dalam keadaan hidup.

Saya tegaskan kembali, yang dinamakan bangkai hewan, adalah hewan mati yang tidak disembelih sesuai syariat Islam.

Dikecualikan bulu, dan rambutnya hewan yang boleh dimakan

Rambut, dan bulu yang lepas dari hewan yang boleh dimakan hukumnya suci, jika lepasnya dalam keadaan hidup.

Tapi, rambut, atau bulu yang lepas bersama anggota lainnya, maka dihukumi najis.

Contoh sederhananya, adalah sayap ayam yang terlepas. Meskipun sayap ayam ada bulunya, namun hukumnya najis, karena yang namanya sayap ayam pasti ada daging, dan tulangnya.

Lihat referensi 7.


Referensi.

Berikut ini kumpulan referensi, atau sumber pembelajaran.

Referensi 1. Kitab Syarah Minhajul Qowim, halaman 23

Referensi 2.

 المنهاج القويم

و لا يطهر شئ من النجاسات الا ثلاثة أشياء الخمر مع إنائها اذا صارت خلا نفسها والجلد المتنجس بالموت ظاهره و باطنه وما صار حيوانا

Halaman, 22-23.

Referensi 3. Syarah Minhajul Qowim halaman 22.

Referensi 4.

Referensi 5. Syarah Minhajul Qowim, halaman 22.

Referensi 6. Syarah Minhajul Qowim, halaman 22

Referensi 7. Syarah Minhajul Qowim, halaman 22

Alhamdulillah sudah selesai.

Silahkan berkomentar jika ada yang perlu ditanyakan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *